JAKARTA, KOMPAS.com — Gegap gempita pesta demokrasi Indonesia sepanjang tahun ini menempatkan kekuasaan sebagai episentrum tujuan. Para calon anggota legislatif menempuh segala cara untuk bisa lolos ke gedung parlemen. Partai-partai dan calon presiden terus melakukan komunikasi politik untuk mencari cara bagaimana mencapai pucuk kekuasaan di eksekutif.Semua calon pemimpin di negeri ini seperti lupa bahwa ada para korban pelanggaran HAM yang menanti keadilan tanpa kepastian. Bahkan, pada perayaan tragedi Trisakti yang jatuh hari ini, 12 Mei, tidak ada satu pun calon presiden yang memberi perhatian, minimal memberi statement bahwa era reformasi yang kini membawa mereka maju ke gelanggang pemilu presiden berdiri di atas nyawa empat mahasiswa Trisakti yang tewas ditembak 11 tahun lalu: Elang Mulyana, Hery Hartanto, Hendriawan Lesmana, dan Hafidin Royan.Demikian refleksi yang terungkap dalam perayaan 11 tahun tragedi Trisakti di Kampus Trisakti, Jakarta, Selasa (12/5).

Civitas Trisakti menyayangkan adanya tokoh politik yang diduga terkait kasus Trisakti, tetapi maju dalam pilpres mendatang.Rektor Universitas Trisakti Thoby Mutis mengungkapkan, meski kasus ini belum tuntas, masyarakat tidak bodoh untuk memilih pemimpin yang diduga terlibat dalam peristiwa itu. "Masyarakat kita enggak bodoh, mereka dapat melihat dari rekam jejak pelanggaran HAM yang dilakukan para capres dan cawapres tersebut," ujar Thoby.Harapan akan penuntasan kasus ini tak putus disuarakan oleh keluarga korban. Ibunda Elang Suryalesmana, Heratetty, berujar, "Saya berharap permasalahan ini cepat diselesaikan, sudah 11 tahun kami menunggu. Bukti-bukti sudah ada tapi belum ada yang mau mengungkapnya. Kami hanya bisa berharap pada pemerintah untuk dapat mengungkap aktor tersebut."Laksmiati, Ibunda Hendriawan, mempertanyakan komitmen para capres, terutama mereka yang namanya disebut-sebut terkait dalam peristiwa ini. "Ke mana saja mereka selama ini, sampai sekarang tragedi Trisakti ini belum juga terungkap. Kok tahu-tahu mereka muncul dan meminta haknya untuk mencalonkan diri memimpin Indonesia," ucapnya sengit.Sebelas tahun berlalu kasus Trisakti tetap menjadi misteri. Empat mahasiswa tewas ditembak, tetapi tak pernah berhasil diungkap siapa penembaknya. Berkas kasus yang dikategorikan sebagai pelanggaran HAM berat ini nasibnya terkatung-katung di Komnas HAM dan Kejaksaan Agung.
(www.kompas.com)
0 comments:
Post a Comment