5/18/09

LIGHTNING STRIKE

sebenarnya tadi pagi udah baca artikel ini. serem. sekarang tambah banyak kejadian kaya gini. jadi inget kejadian waktu itu. astraphobia. mbul baca deh:
BANJARBARU, KOMPAS.com — Teriakan Nana Gunawan (59) memecah suara gemuruh hujan lebat disertai terjangan angin ribut yang terjadi Sabtu (16/5) pukul 16.00 Wita. "Allahu Akbar," teriak Nana histeris.Sesaat setelah petir menyambar rumahnya, Nana merasa ada sesuatu menyambar kepalanya. Dia merasakan ada strum listrik dahsyat yang menghampiri tubuhnya. Ujung kepala sebelah kiri, tangan, hingga kaki sebelah kiri terasa sangat panas.Saat itu, dia belum sadar apa yang sebenarnya terjadi. Di ujung kepasrahannya menghadapi maut akibat sambaran petir, samar-samar matanya melihat sang istri, Rohaya (50), menghampirinya. Sang istri berniat menolongnya dengan cara mendekap tubuhnya."Tiba-tiba ada ledakan menyambar kepala. Waktu itu aku tak mengerti apa yang sebenarnya terjadi. Tubuhku seperti tersengat panas yang luar biasa," kata warga Kampung Transad Pambataan RT 22 RW 3 Kelurahan Guntung Manggis, Banjarbaru, itu.Begitu terkena sambaran petir, tubuhnya terpental beberapa meter. Saat itulah, Nana yang baru saja pulih dari penyakitnya akibat maag dan tipus berteriak-teriak. Dia pun terduduk. Beberapa detik kemudian, istrinya langsung mendekapnya.Saat berada dalam dekapan sang istri, kesadaran Nana berangsur pulih. Namun, lebih dari 15 menit, sang istri tetap tak melepaskan pelukannya. Dia pun heran istrinya tak bicara sepatah kata pun. Dekapan tangannya pun keras dan kaku."Saya sempat bingung. Saya merasakan pelukan tangan istriku kaku, keras, dan tak bergerak. Lebih dari 15 menit. Setelah saya lepaskan, ternyata istriku sudah meninggal dunia," ucap Nana.Dia pun tersadar istrinya telah meninggal dunia. Dia menduga, arus listrik akibat petir yang menghantamnya merambat ke tubuh istrinya. Hingga Minggu (17/5), Nana masih merasakan panas di tubuh sebelah kiri.Akibat sambaran petir itu, televisinya hangus terbakar. Begitu juga dengan semua kaca di bagian depan rumahnya, hancur berantakan. Saat petir menyambar, di rumah itu hanya ada dia dan istrinya, sementara anaknya sedang berada di luar rumah.Ketua RT 22 RW 3 M Saini mengakui, kondisi kampung pambataan sangat rawan terjangan angin ribut dan petir. "Warga di sini memang sering kena sambaran petir. Mungkin karena lokasinya yang terbuka," ucap Saini. Dia berharap Pemkot Banjarbaru memberi bantuan kepada keluarga korban.Lurah Guntung Manggis Ubay, saat melayat ke rumah duka, mengaku sudah berkoordinasi dengan dinas sosial untuk memberikan bantuan kepada korban musibah sambaran petir itu. "Kami sudah koordinasi dengan dinsos. Semoga bantuannya cepat cair," katanya. (www.kompas.com)

0 comments: